Disclaimer

Payung Merah adalah media yang menyediakan bacaan dan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.



الله memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan الله bagi kaum yang berfikir.”

QS. Az-Zumar: 42


Psikologi Islam berlandaskan dengan ayat di atas menjadikan penalaran sebagai salah satu fokus kemampuan manusia yang Mukallaf atau مكلف1 agar mampu mengelola dirinya secara seimbang, termasuk akal atau pikiran yang harus diperhatikan.

Namun, seorang manusia tidak serta merta mampu menjalankan fungsi pengelolaan diri yang baik, kecuali ia telah melewati fase ke fase, dari kecil hingga besar dengan baik dan sehat. Maka itu pembentukan fisik yang menunjang fungsi akal yang sempurna jadi perhatian khusus dalam perkembangan seorang anak sejak masa kanak-kanak hingga menjadi dewasa.

Baca Juga: Sistem Nafsani: Unsur Metafisik di Balik Diri dan Perilaku

Terminologi akal berasal dari bahasa Arab yaitu عقل yang berarti pikiran, mengikat, menahan dan bermaksud menerangkan potensi manusia untuk menerima pengetahuan serta kemampuan untuk memecahkan masalah (Mubarok, 2009: 19).

Al-Qur’an tidak secara eksplisit menggunakan kata tersebut, namun menggunakannya secara implisit dengan menggunakan bentuk fi’il atau kata kerja sebanyak 40 kali dan bentuk fikru atau فكر sebanyak 18 kali.2 Baik عقل maupun فكر merupakan kata kerja yang menyiratkan fungsi mengerti, memahami dan berpikir dari akal itu sendiri. Lebih terperinci lagi akal berfungsi untuk (Mubarok, 2009: 19-20),

  • Melihat dengan penalaran atau nazhoru نظر yang dalam Al-Qur’an surah Qaf: 6-7, At-Thariq: 5-7 dan Al-Ghashiyah: 17-20;
  • Merenungkan atau tadabbaru تدبر seperti dalam Al-Qur’an surah Sad: 29 dan Muhammad: 24;
  • Berpikir atau tafakkaru تفكر di dalam Al-Qur’an surah An-Nahl: 68-69 dan Al-Jaatsiyah: 12-13;
  • Mengerti atau tafaqqohu تفقه pada Al-Qur’an surah At-Taubah: 12 dan Al-Isra: 44;
  • Mengingat atau tadzakkaru تذكر   yang ada dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar: 9 dan Adh-Dhariyat: 47-49;
  • Memahami atau fahmu فهم seperti pada Al-Qur’an surah Al-Anbiya: 78-79.

Semua fungsi tersebut ditujukan kepada manusia untuk memiliki kemampuan kognitif atau memproses informasi yang didapat menggunakan logika dan rasionalitas dengan berbagi kadar bersama aspek lainnya. الله memberikan akal kepada manusia bertujuan agar dapat menyadari tanda-tanda kekuasaan-Nya sehingga semakin bersyukur dan taat kepada perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Kesadaran tersebut mestilah tercermin dalam perilaku sehari-hari dengan analogi ‘semakin bertakwa (taat) seseorang, maka semakin baiklah budi pekertinya’.

Bacaan Selanjutnya:

Sistem Nafsani: Unsur Metafisik di Balik Diri dan Perilaku

Gambar: Citispotter


Salurkan Pemikiranmu!

Ingin artikelmu diterbitkan seperti ini? Kamu bisa! Yuk, salurkan pemikiranmu lewat artikel opini dan listicle di Payung Merah!

 Tulis Artikel

Gabung LINE@


Bagaimana Menurutmu?

Daftar Pustaka

  1. Istilah yang digunakan dalam Islam yang apabila seorang manusia telah mencapai masa baligh (dewasa fisik dan mental) serta sehat akalnya sehingga telah diwajibkan kepadanya sejumlah aturan syariah untuk dijalankan dan apabila ia ingkar maka akan dikenakan sanksi agama.
  2. Yusuf Al-Qaradhawi, Ar-Rasul al-Mu’allim (Kairo: Dar ash-Shahwah, 1984), hal. 3-4 dalam Muhammad Utsman Najati, Psikologi Qurani: Dari Jiwa hingga Ilmu Laduni (terj. Hedi Fajar & Abdullah; Bandung: Marja, 2010), hal. 123.

Mari Viralkan Tulisan Ini!

Apa Reaksi Kamu?

Kesal Kesal
29
Kesal
Kocak Kocak
5
Kocak
Marah Marah
3
Marah
Kaget Kaget
9
Kaget
Inspiratif Inspiratif
11
Inspiratif
Keren Keren
24
Keren
Pilih Satu Format
Opini
Tulis opini dan tambahkan elemen visual seperti gambar dan video
Listicle
Buat artikel dalam bentuk Listicle dan lengkapi dengan elemen visual