Disclaimer

Payung Merah adalah media yang menyediakan bacaan dan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.


Akhlaqul Sosmediyah Menyambut Pesta Demokrasi 2019 – Setelah selesainya perhetalan Asian Games ke-18 di Jakarta-Palembang, media sosial kembali diramaikan oleh narasi-narasi politis.

Sebuah stasiun televisi nasional juga sempat membahasnya dalam acara Indonesia Lawyers Club (21/08/2018) tentang perang di media sosial.

Terjadi perang tagar (tanda pagar, #) antara kubu pro petahana dengan penantangnya nanti pada PilPres 2019 di Twitter.

Baca Juga: Islam Wasathiyyah: Wajah Baru Diplomasi Indonesia

Effendy Ghazali mengatakan, “Kondisi ini sebenarnya sudah dimulai sejak 18-20 Mei 2014 dan kita harus mampu membedakan antara sosiopat dengan psikopat. Apa yang kita alami saat ini, jangan-jangan lahir dari orang-orang yang ingin menang, mempertahankan posisi dengan segala cara, terlihat tulus padahal ingin bohong. Siapa yang membuat?”

Masyarakat menjadi semakin bingung dengan apa yang terjadi pada perpolitikan Indonesia, khususnya ketika Pilpres yang bersentral hanya pada persaingan dua tokoh, yaitu Joko Widodo sebagai petaha dan Prabowo Subianto sebagai penantang.

Berbagai narasi bertebaran, baik yang mengandung ujaran kebencian (hate speech) atau berita palsu (hoax) di media sosial.

Sementara itu, kebanyakan masyarakat menjadi konsumen kedua produk tersebut dan semakin semaraklah ‘kontes’ nyinyir yang terjadi di dunia maya.

Baca Juga: Demokrasi: Tugas Yang Tidak Pernah Selesai

Namun sayangnya, terjadi juga banyak ketimpangan yang ada di media sosial dengan munculnya oknum yang ber’main-main’ dengan hoax.

Menurut Mustofa Nahrawardaya terkait akun-akun yang berperang narasi di media sosial, “Yang banyak ditutup itu, yang di take down, yang di suspend itu pasti yang oposisi. Ketika regulator (pemerintah) itu tidak melakukan sesuai dengan relnya, dia tidak on the track, ini akan menjatuhkan seseorang.”

Apakah pemerintah atau kubunya yang  menjadi oknum tersebut?

Terlepas dari itu semua, penting bagi pegiat dan aktivis di media sosial untuk menahan diri dan tidak mudah terbawa jutaan narasi yang sedang berperang di dunia maya.

Baca Juga: Islam Wasathiyyah: Wajah Baru Diplomasi Indonesia

Oleh karenanya, adanya Kode Etik NetizMu dapat menjadi kiat-kiat memelihara kebijaksanaan ketika bermedia sosial.

Terdapat tuntunan yang bisa diimplementasikan serta sebagai pengingat ketika berselancar di internet guna memelihara keadaban manusia Indonesia, yaitu:

  1. Dalam menggunakan Media Sosial senantiasa dilandasi oleh Akhlaqul Karimah (akhlak mulia) yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits;
  2. Jadikan media sosial sebagai sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan, mencegah kejahatan) dengan hikmah (kebijaksanaan) dan mauizhah hasanah (ucapan yang baik);
  3. Senantiasa menjaga nama baik dan mendukung Siapapun dalam menyebarkan pesan-pesan positif;
  4. Buatlah media sosial sebagai wahana silaturahmi, bermuamalah tukar informasi dan berdakwah;
  5. Konten dan materi yang disebarkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara personal atau kelembagaan, juga yang bersifat mencerahkan tidak bertentangan dengan norma sosial, agama dan etika orang Indonesia serta tidak melanggar hak orang lain;
  6. Sesama warga negara Indonesia harus saling berteman, menjadi follower sebagai bentuk silaturahmi dan menjaga ukhuwah;
  7. Sesama warga negara Indonesia harus saling mengingatkan, menasehati dengan etika yang tinggi seperti ajaran Islam, serta sanggup mengkoreksi dan meminta maaf ketika salah.

Dengan mengikuti tuntunan di atas, setidaknya masyarakat mampu meminimalisir potensi konflik dan disintegrasi antar warga negara menjelang Pilpres 2019.

Akhlaqul Sosmediyah

Sebagaimana yang sudah pernah dirasakan pasca Pemilu PilPres 2014 atau Pilkada DKI Jakarta 2017, masyarakat terbelah menjadi kubu-kubu sesuai calon favoritnya dan cenderung menjadi fanatik berlebihan.

Baca Juga: Momentum Baru Undang-Undang Pemberantasan Terorisme di Indonesia

Sehingga, para penggiat media sosial, khususnya yang muslim dan masih memegang teguh ke-Islam-annya diharapkan mampu menghindari perilaku dan sifat yang dapat muncul ketika menghadapi arus informasi di Media Sosial yang sangat sporadis dan tak terbendung.


Salurkan Pemikiranmu!

Ingin artikelmu diterbitkan seperti ini? Kamu bisa! Yuk, salurkan pemikiranmu lewat artikel opini dan listicle di Payung Merah!

 Tulis Artikel

Gabung LINE@


Bagaimana Menurutmu?

Mari Viralkan Tulisan Ini!

Pilih Satu Format
Opini
Tulis opini dan tambahkan elemen visual seperti gambar dan video
Listicle
Buat artikel dalam bentuk Listicle dan lengkapi dengan elemen visual