سبحانه و تعالى الله (Allah Yang Maha Suci & Maha Tinggi) menciptakan segala sesuatunya berpasangan, karena hanya Dia yang tunggal. Begitu juga kemampuan akal untuk kognisi yang diimbangi oleh kemampuan hati untuk afeksi. Kualitas seorang manusia jika diukur dari norma baik dan buruk ditentukan oleh hati dalam mengelola diri. Seperti hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang disampaikan oleh An-Nu’man ibnu Basyir رضى الله عنهما, berbunyi

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْب 

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah ia adalah hati (jantung).” 

– (HR. Bukhari: 52 & Muslim: 1599)


Sistem Nafsani: Hati sebagai Penyeimbang dan Penentu – Terminologi hati pada pembahasan ini dalam bahasa Arab adalah qalbi atau قلب yang berarti bolak-balik atau sifat inkonsisten yang merupakan aspek intangible yang tersemat pada benda tertentu.

Dalam sistem nafsani, hati merupakan ruang kecil yang memiliki fungsi cukup dominan yang menentukan kualitas akhlak atau tingkah laku atau perbuatan seorang manusia, oleh karenanya ia menjadi pengelola subsistem lain (Mubarok, 2014).

Baca Juga: Sistem Nafsani: Akal Menurut Fungsi & Tujuannya

Senada dengan pendapat Abdullah Gymnastiar (2001), hati haruslah dikelola dengan baik agar diri dapat diperbaiki untuk menjadi pribadi sempurna, menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, hati berupa unsur metafisik yang menyerupai jiwa namun bersifat halus, tak berbentuk dan memiliki unsur ketuhanan yang mampu menangkap pengetahuan tentang الله serta melebihi akal dalam ilmu muamalah.

Afeksi yang diberikan hati mempengaruhi otak untuk memproduksi hormon-hormon yang membuat manusia merasakan senang atau sedih, baik atau buruk, sehat atau sakit serta benar atau salah. Sedangkan, akal hanya memberikan masukan terhadap suatu hal melalui proses nalarnya.

Baca Juga: Sistem Nafsani: Unsur Metafisik di Balik Diri dan Perilaku

Pada tataran praktis, hati diibaratkan seorang manager dalam diri seseorang. Sebagai contoh, semua orang mengetahui bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan. Jika menggunakan nalar dan akal yang lazim, maka tidak akan ada orang yang merokok.

Namun, kerap ditemui perokok-perokok yang menjamur dimana-mana, bahkan pengusaha rokok semakin hari, semakin bertambah hartanya karena konsumennya semakin banyak. Perokok tersebut dalam proses mental-nya atau kerja sistem diri-nya, memutuskan untuk melanjutkan aktivitas merokok karena hati menginginkannya, walau sering tidak disadari dengan dibumbui berbagai macam analogi dan alibi.

Baca Juga: Universalitas Kebenaran Agama Dan Agama Yang Benar

Oleh karena itu, jagalah hati, karena sesungguhnya hati-lah yang mampu mendekatkan ataupun menjauhkan kita dari-Nya, Yang Maha Esa.


Gabung LINE@


Bagaimana Menurutmu?

Ar-Raj

What's Your Reaction?

Kesal Kesal
5
Kesal
Kocak Kocak
10
Kocak
Marah Marah
8
Marah
Kaget Kaget
13
Kaget
Inspiratif Inspiratif
17
Inspiratif
Keren Keren
2
Keren
Pilih Satu Format
Kuis Kepribadian
Serangkaian pertanyaan yang bertujuan untuk mengungkapkan sesuatu tentang kepribadian
Kuis Trivia
Serangkaian pertanyaan dengan jawaban yang benar dan salah yang bermaksud untuk menguji pengetahuan/wawasan
Opini
Tulis opini dan tambahkan elemen visual seperti gambar dan video
Listicle
Buat artikel dalam bentuk Listicle dan lengkapi dengan elemen visual