-1
93 shares, -1 points
Disclaimer

Payung Merah adalah media yang menyediakan bacaan dan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.


Universalitas Kebenaran Agama Dan Agama Yang Benar – Lihat saja, bagaimana siswi SMA asal Banyuwangi bernama Afi Nihaya Faradisa mendapatkan aksi teror dari orang dan kelompok yang tidak setuju dan tidak menyukai pesan perdamaian yang disampaikannya.

Pertanyaan penting yang harus direfleksikan adalah; apakah perbedaan agama mau dijadikan sebagai pemicu konflik atau dijadikan sebagai instrumen penegasan identitas yang unik bagi masing-masing pihak?

Pemurnian ajaran agama yang yang membutakan akal pikiran hingga memunculkan fanatisme yang berlebihan menyebabkan universalitas perdamaian antar-umat beragama menjadi hanya sebuah jargon. Kelompok agama tertentu yang merupakan minoritas harus tunduk dan diam, belum lagi intimidasi akibat perbedaan pandangan, seperti yang terjadi pada Afi.

Baca Juga: Sistem Nafsani: Akal Menurut Fungsi & Tujuannya

Bila kita berpikir secara gramatikal, kebenaran agama itu merupakan kata benda yang mengisyaratkan makna bahwa kebenaran agama bersifat given. Sedangkan, agama yang benar merupakan sebuah proses yang terus-menerus dimaknai sehingga menghasilkan sebuah implementasi agama yang berada pada jalur yang mengajarkan kasih sayang, perdamaian dan kemajuan peradaban manusia (Damianus J. Hali: 2007).

Bentuk dan Substansi Agama

Ada elemen religius yang mendalam pada diri setiap manusia. Hal itu pun menjadi sebuah dasar lahiriah yang dimiliki manusia dengan/atau tanpa agama. Dengan kata lain, ajaran-ajaran etis-moral yang membantu manusia untuk sungguh-sungguh menjadi manusia bukanlah monopoli agama. Agama hanyalah menjadi salah satu bagian saja dalam seluruh rangkaian upaya manusia sebagai makhluk sosial (2007: 13-14).

Lalu, bagaimana dengan seseorang dan/atau kelompok tertentu yang menggunakan kekerasan dengan alasan bahwa keyakinan agamanyalah yang paling benar? Ketika para elit memperalat akar rumput dengan dogma agama untuk melakukan kekerasan karena agama yang dianut adalah agama yang paling benar, hal itu akan mengkhianati makna given dari agama itu sendiri demi kepentingan kekuasaan.

Hal ini perlu ditegaskan karena fenomena agama yang muncul ke permukaan acap kali melupakan makna hakikinya. Sekalipun harus tetap diakui bahwa bentuk memberikan identitas spesifik terhadap sebuah agama, namun itu tak berarti bahwa pemahaman terhadap bentuk mengabaikan substansi.

Menurut saya, dengan menggunakan kerangka pikir filosofis, secara substansial kebenaran agama itu bersifat perenial, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Semua agama yang pernah hadir adalah otentik dan benar adanya sehingga kehadiran sebuah agama tidak menghapus dan menggantikan agama yang lain.

Baca Juga: Sistem Nafsani: Unsur Metafisik di Balik Diri dan Perilaku

Sehingga, kalaupun sebuah agama dikatakan sebagai agama yang mutakhir dan meliputi kebenaran yang absolut, itu hanya sebuah bentuk, bukan substansi.

Belum lagi, akibat ketidaktahuan dalam membedakan substansi dan bentuk dari agama, saya pikir cukup wajar apabila kita mengacu pada maraknya diskriminasi terhadap agama tertentu, merebaknya kasus intoleransi dan aksi terorisme belakangan ini.

Yang lebih mengerikan, agama kerap kali disakralkan dan mau melakukan apapun, termasuk aksi bunuh diri demi mendapat jatah kavling surgawi, bila atas nama agama, selalu dianggap benar dan baik. Hal itu justru mencabik-cabik substansi keagamaan dan hanya menjadi bentuk yang bersifat sekunder.

Kebenaran Agama Dan Agama Yang Benar: Mendekonstruksi Agama

Kebenaran agama dengan seluruh doktrinnya bisa didekonstruksi dan ditata ulang sesuai dengan zamannya. Akan tetapi, keutamaan kasih sayang dan perhatian terhadap sesama manusia tidak bisa didekonstruksi. Hal itu harus terus dijaga dan harus terus eksis hingga abadi di zaman apapun.

Hal ini yang menjadi kesalahan berpikir suatu organisasi tertentu, membangun narasi dan slogan bernuansa keagamaan tetapi perilaku dan tindakannya jauh dari cerminan kasih sayang yang diajarkan oleh agama. Sebagai contoh; kelompok tertentu dengan mudahnya mengthagutkan pemerintahan yang sah dan mudah mencap kafir saudara sebangsanya, saya pikir mereka perlu melakukan rekonsiliasi kembali sebagai umat beragama.

Agama yang benar bagi penganutnya berarti dengan sangat sungguh-sungguh religius, sungguh-sungguh mengasihi sesama dan mencintai Tuhan, tanpa menebarkan sebuah klaim bahwa, ‘’agama saya yang benar dan agama lain tidak’’ (2007: 15).

Ketika realitas terlampau kompleks, di mana hasil akhirnya akan ada agama yang tersingkir dan ada agama yang akan tampil sebagai pemenang. Padahal agama dalam bentuk plural lebih bersifat unik dan menjadi oase praktik-praktik etis dan narasi-narasi religius yang khas. Di dalamnya tidak ada klaim kepemilikan ekslusif atas kebenaran.

Baca Juga: Sebuah Kritik: Pendekatan Epistemologi ala Barat

Agama yang benar, selain secara rasional dan logis, adalah benar bahwa setiap wahyu dari agama yang lahir kemudian akan selalu menolak agama yang sudah terlebih dahulu ada sebelumnya. Hal itu hanyalah pembenaran bagi ajaran-ajaran yang dibawa agama tersebut. Pandangan itu hanyalah benar secara simbolik, artinya wahyu yang ditolak itu hanya sebatas bentuk lahiriah agamanya, bukan substansinya.

Ketika pemahaman secara universal ini bisa menyentuh makna-makna substansial dari sebuah agama, saya yakin orang tidak akan resah ketika ada pembangunan tempat ibadah agama lain. Orang tidak akan mendiskriminasi penganut agama tertentu karena agamanya sering dicatut oleh kelompok teror untuk melakukan aksi terorisme. Orang tidak akan resah ketika membiarkan tempat makan tetap buka untuk menyediakan kebutuhan masyarakat non-Muslim di Bulan Suci Ramadhan.

Masyarakat Indonesia yang dikenal sangat beragam dengan multi-agama memang tidak dengan sendirinya bisa menjadi masyarakat yang ideal. Bumi Indonesia tidak pernah ditempati oleh penghuni-penghuni yang ideal. Tetapi, menghilangkan sikap fanatisme agama dalam bernegara tidaklah sulit. Toleransi adalah sikap paling realistis dalam menerima perbedaan keyakinan dengan penuh lapang dada dan kemurahan hati.

Baca Juga: Bagaimana Seharusnya Kita Belajar Dari Kebijakan Multikulturalisme di Kanada?

Untuk merealisasikan toleransi beragama yang lebih mendalam memang membutuhkan keberanian, iman yang dewasa dan kedalaman pemahaman. Umat beragama sudah seyogyanya berani mendekonstruksi ulang ajaran agama, lalu menyusunnya kembali sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini tentu akan menjauhkan orang-orang beragama dari kesempitan dan kepicikan dalam memahami agama.

Karena, secara sosiologi-antropologis pluralisme agama dan etnis di Indonesia adalah fakta yang harus diterima demi kelangsungan dan perdamaian di Indonesia. Sudah cukuplah elit politik maupun organisasi keagamaan memanfaatkan individu atau kelompok yang lemah akal untuk kepentingan kekuasaan.

Karena biar bagaimanapun, proses pencerdasan bangsa masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi bangsa Indonesia untuk bisa bersaing di era globalisasi seperti sekarang ini..


Referensi

Hali, Damianus J. “Fenomenologi Agama Damianus J. Hali.” 2007.

Gambar: Huffington Post


Salurkan Pemikiranmu!

Ingin artikelmu diterbitkan seperti ini? Kamu bisa! Yuk, salurkan pemikiranmu lewat artikel opini dan listicle di Payung Merah!

 Tulis Artikel

Gabung LINE@


Bagaimana Menurutmu?

Mari Viralkan Tulisan Ini!

-1
93 shares, -1 points

Apa Reaksi Kamu?

Kesal Kesal
24
Kesal
Kocak Kocak
2
Kocak
Marah Marah
26
Marah
Kaget Kaget
6
Kaget
Inspiratif Inspiratif
9
Inspiratif
Keren Keren
22
Keren
Pilih Satu Format
Kuis Trivia
Serangkaian pertanyaan dengan jawaban yang benar dan salah yang bermaksud untuk menguji pengetahuan/wawasan
Opini
Tulis opini dan tambahkan elemen visual seperti gambar dan video
Listicle
Buat artikel dalam bentuk Listicle dan lengkapi dengan elemen visual