Mempertahankan Ketakwaan di Hadapan Media Sosial


Mempertahankan Ketakwaan di Hadapan Media Sosial

Mempertahankan Ketakwaan di Hadapan Media Sosial – Suatu malam, Pak Haedaer Nashir selaku Ketua Umum Muhammadiyah memberikan sambutan di pengajian rutin yang dilaksanakan di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, jalan Menteng Raya nomor 62, Jakarta Pusat.

Beliau mengatakan, “Dewasa ini ada tugas penting untuk diperhatikan bagi orang yang beragama, khususnya Muslim… yaitu mempertahankan ketakwaannya di hadapan Media Sosial.”

Selintas… hal ini membuatku bertanya dalam diri, “Ada apa dengan ketakwaan dan media sosial?”
Lambat laun pertanyaan tersebut terjawab seiring perkembangan penggunaan media sosial yang semakin masif dan sporadis dalam menyebarkan berbagai macam berita.

Jika diibaratkan permainan bola, berita adalah bola panas yang terus digulirkan dari satu pemain ke pemain lainnya. Tujuannya adalah mencetak gol atau menggiring opini publik ke arah tertentu sesuai yang diinginkan oleh pembuat berita. Padahal, belum tentu pembuat berita melayani kepentingan yang luhur, bisa jadi kepentingan kelompok tertentu atau bahkan kepentingan dompet pribadi.

Dalam menanggapi berita dengan validitas dan reliabilitas meragukan atau fenomena hoax, maka Islam memberikan acuan dasar melalui surah Al-Hujuraat (49), ayat 6

يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ  فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا  فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika ada orang yang fasiq datang kepada kalian membawa suatu berita penting, maka tabayyun-lah (teliti lebih dahulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”

Himbauan untuk meneliti terlebih dahulu menjadi urgent karena masyarakat yang kini condong kepada budaya “instan” tidak ceroboh dan tidak tergelincir ke kondisi yang merugikan.

Mempertahankan Ketakwaan di Hadapan Media Sosial: Ingat 3B!

Bersabar itu penting, sabar dengan tidak terburu-buru menyebarkan satu berita hanya karena seru atau lucu yang diteruskan oleh pertemanan dalam sebuah grup WhatsApp. Padahal belum tentu berita tersebut kredibel, valid dan reliable.

Berpikir itu manusiawi, pikiran adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan hewan, berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, agar kita tahu konsekuensi dari tiap berita yang kita bantu sebarkan ke publik Facebook atau pun perkataan yang kita cuitkan ke sarang Twitter.

Bertakwa… itu yang الله inginkan, karena dengan mengingat-Nya kita dapat mencegah perbuatan buruk terjadi atau jika sudah terjadi, kita dapat memitigasinya dengan baik. Karena pertolongan الله adalah segalanya, kita manusia hanya bisa berencana.

Ibrah yang bisa diambil terutama di bulan Ramadhan ini agar kita semua belajar untuk mampu menerapkan 3B sehingga ada dampak positif yang dibawa setelah melalui bulan suci ini, demi menyongsong 11 bulan lain di kemudian hari.


Bacaan Selanjutnya:

1. Sistem Nafsani: Nurani Sang Komplementer
2. Sistem Nafsani: Hati sebagai Penyeimbang dan Penentu
3. Sistem Nafsani: Akal Menurut Fungsi & Tujuannya
4. Sistem Nafsani: Unsur Metafisik di Balik Diri dan Perilaku
5. Jurnalisme Tipu Daya – Media yang Terpenjara


Gambar: Evolve Wikia


What's Your Reaction?

Inspiratif Inspiratif
1
Inspiratif
Kaget Kaget
0
Kaget
Kocak Kocak
0
Kocak
Marah Marah
0
Marah
Kesal Kesal
0
Kesal
Keren Keren
0
Keren

log in

Sudah punya akun? Silahkan log in ;)

Don't have an account?
daftar

reset password

Back to
log in

daftar

Di sinilah tempatnya kamu bisa menyalurkan pikiran lewat opini kritis. Daftar sekarang!

Back to
log in
Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Open List
Ranked List
Ranked List